Astagfirullah, Dinas Sosial Aceh Kerjasama dengan Komunitas Homo dan Lesbian di Aceh

aceh-new-main-landing

Banda Aceh - Dinas sosial Aceh dikecam masyarakat karena bekerjasama dengan komunitas homo dan lesbian di Aceh. Kerjasama yang terbina antara Dinsos Aceh dengan Violet Grey (Komunitas Homo dan Lesbian) diutarakan oleh Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos Aceh, Devi Riansyah kepada salah satu media cetak di Aceh terkait pemberitaan HIV AIDS.

Sejumlah warga Aceh mengaku kaget membaca berita di salah satu harian lokal yang terbit di Aceh perihal Dinsos Aceh bekerjasama dengan komunitas homo, lesbian dan banci. ” Uang rakyat digunakan untuk kerjasama dengan komunitas sesat, ini kan namanya mengakui kaum homo, lesbian dan banci di Aceh, mungkin masyarakat awam tidak tahu apa itu Violet Grey, tapi kami tahu apa dan bagaimana kelakuan komunitas Violet Grey, mereka itu mencari kawan-kawan sejenis untuk melebarkan jaringannya di Aceh, kalau Gubernur tahu, bisa dipecat Kadis Sosial Aceh, ” ujar Salman warga Banda Aceh.

Salman mengatakan pemerintah Aceh serius menegakkan syariat Islam di Aceh, tetapi Dinas Sosial malah bekerjasama dengan komunitas sesat tersebut untuk alasan pencegahan HIV AIDS. “Gara-gara komunitas sesat itu, keluarga saya ada yang terjerat, anda pasti dengar lesbian ABG ditangkap WH, itu salah satu keluarga kami, gara-gara salah pergaulan, bagaimana jika anak anda terjebak menjadi homo atau lesbian, apa masih diam saja,” jelasnya.

Berdasarkan penelurusan HarianMerdeka.com, Violet Grey (VG) merupakan organisasi LGBT pertama di Aceh, organisasi ini diprakarsai oleh tiga orang aktivis muda Aceh, Faisal, Erik dan Echa karena keresahan mereka melihat ketidak adilan serta diskriminasi yang dihadapi kelompok LGBT di Aceh, terutama atas nama agama. Berawal dari kumpul-kumpul dan diskusi informal, munculah gagasan untuk mengorganisir kelompok LGBT agar berjuang demi pemenuhan dan pembelaan hak-hak mereka.

Kemudian berdirilah Violet Grey pada tanggal 02 November 2007 dengan no akte 163, VG beralamat di Jl. Pemancar Dalam III Dusun Meurak Lingkungan Cina No.88 Lamteumen Timur – Banda Aceh. Nama Violet Grey (Ungu abu-abu) diinspirasi oleh warna lambang feminis yang diharapkan dapat menjadi kerangka ideology VG dalam melakukan kerja-kerjanya.

Sementara abu-abu untuk menjawab oposisi biner bahwa di dunia ini tidak hanya hitam dan putih saja tetapi ditengah-tengah masih ada abu-abu artinya bahwa di dunia bukan hanya ada laki-laki dan perempuan hetero saja tetapi ada juga diantaranya LGBT-IQ.

Sekarang ini VG sedang melakukan kampanye publik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perlunya penghormatan terhadap keberagaman seksualitas dan identitas gender, serta sosialisasi prinsip-prinsip Jogjakarta sebagai dokumen yang berisi prinsip-prinsip pemenuhan hak asasi kelompok LGBT.

Dalam kesehariannya, kantor VG (atau yang biasa disebut sekret), menjadi tempat berkumpul teman-teman gay, waria dan lesbian di Aceh. Mereka datang ke VG untuk bertemu, curhat dan berdiskusi tentang banyak hal. (red)

 

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply