Banda Aceh - Pemerintah Kota Banda Aceh bekerjasama dengan Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Aceh turun ke pasar-pasar melakukan sidak terhadap makanan yang berformalin atau borak. Hasilnya, pada tahun ini Banda Aceh bebas dari zat pengawet berbahaya itu.
Pasar pertama yang disidak adalah Pasar Tradisonal Lambaro, Aceh Besar. tahun lalu, pasar ini terdapat 12 pembuat mie kuning positif menggunakan zat pengawet. Namun, pada tahun 2016 ini petugas tidak menemukannya atau semuanya negatif.
Setelah itu, Kepala BPOM Aceh, Syamsuliani didampingi Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’duddin Djamal bergeak menuju Lorong Pisang, Peunayong, Banda Aceh. Di lokasi ini ada 20 pembuat mie kuning telah dilakukan pemeriksaan. Hasilnya semua pengusaha mie kuning ini negative dari zat pengawet tersebut.
Illiz Sa’aduddin Djamal bahkan sempat berbincang-bincang dengan pembuat mie kuning, Dek Yan. Kepada Illiza, Dek Yan meminta pemerintah untuk melakukan pengawasan secara rutin. Karena selama ini dirinya tidak pernah menggunakan zat pengawet tersebut.
“Saya minta ibu turun setiap bulan, periksa semua. Kalau satu tahun sekali saya marah. Saya tidak gunakan formalin, mie saya cepat basi dan kalau gak laku saya buang, maka sering-sering periksa,” pinta Dek Yan kepada Illiza saat sidak, Rabu (29/06/2016).
Illiza didampingi Kadis Kesehatan Kota Banda Aceh, Media Yulizar di hadapan pembuat mie kuning dan bakso berjanji akan memeriksa setiap bulannya. Sehingga kedepan tidak ada lagi makanan yang mengandung borak maupun formalin.
“Iya, kami akan perketat nantinya. Ini yang jual tadi saya bicara dia belum pernah menggunakan zat pengawet,” jelas Illiza.
Kata Illiza, sebelum Ramadan pihaknya dan BPOM sudah lebih dulu melakukan sidak dan mengingatkan para pedagang agar tidak menggunakan zat kimia berbahaya.
“Hari ini kita kembali dan ternyata mereka mematuhinya. Kita tidak temukan lagi formalin dan boraks,” ungkap Illiza.
Sementara itu Kepala BPOM Aceh, Syamsuliani mengatakan, tahun ini semua pembuat mie dan bakso serta makanan lainnya sudah mematuhi tidak menggunakan zat pengawet.
“Berbeda tahun lalu kita banyak temukan. Di Lambaro saja dulu 12 tempat usaha gunakan boraks, sekarang tidak ada lagi,” imbuhnya.
Meskipun sebelum puasa ia tak menampik ada menemukan 4 pembuat mie di Lambaro menggunakan zat pangawet dan 3 di Peunayong. Setelah dilakukan pembinaan dan peringatan, sidak sekarang mereka sudah tidak menggunakannya lagi.
“Sidak hari ini semua sudah aman dari zat pengawet. Ini bukan berarti besok sudah aman, bisa saja mereka besok gunakan. Makanya butuh pengawasan secara bersama-sama,” imbuhnya.
Salah satu pengawasan yang dilakukan, kata Syamsuliani, pihaknya telah menempatkan petugas pasar untuk melakukan pengawasan. Termasuk telah memberikan peralatan sederhana untuk menguji. “Nanti mereka pengurus organisasi pasar sendiri yang awasi, bila mencurigakan setelah diuji dengan alat sederhana, kita akan turun langsung,” tutupnya
Sementara itu kadis kesehatan kota Banda Aceh, Media Yulizar mengaku akan lebih sering memeriksa makanan yang beredar di masyarakat bersama dengan BPOM. “Orang Banda Aceh gemar makan mie Aceh atau Bakso, pengawasan terhadap pedagang akan kami tingkatkan,” ujarnya kepada HarianMerdeka.com
(red/habadaily)
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.