Jakarta - Calon terkuat kandidat pendamping Mualem di pilgub 2017 mendatang, Amir Faisal bertemu dengan CEO Tiga Pilar Sejahtera Food, Joko Mogoginta di Jakarta, Senin (1/2).
Amir Faisal bertemu Joko untuk membahas penciptaan lapangan kerja baru di Aceh. Seperti diketahui, Aceh adalah daerah dengan tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia.
Berdasarkan penelusuran HarianMerdeka.com, berikut profil Joko Mogoginta, lulus dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, jurusan Teknologi Pangan pada tahun 1991.

Karir Beliau dimulai dengan mendirikan PT Tiga Pilar Sejahtera pada tahun 1992. Beliau menjabat sebagai Direktur Utama PT Tiga Pilar Sejahtera pada tahun 1992 hingga Juni 2013 dan menjabat sebagai Komisaris PT Tiga Pilar Sejahtera sejak 2014 hingga sekarang. Di tahun 2003,
Baca Juga : Yes, Aceh ‘Juara’ Pengangguran Se-Indonesia, Apa Kerja Disnaker ?
Beliau diangkat menjadi Direktur Utama PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk dan telah memimpin Perseroan hingga kini. Beliau juga menjabat sebagai Komisaris Utama PT Bumiraya Investindo sejak tahun 2006 hingga Maret 2015. Selain itu, Beliau saat ini juga memegang posisi penting lainnya, yaitu sebagai Komisaris PT Poly Meditra Indonesia sejak 2014.
PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk (TPSF) merupakan perusahaan publik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2003 yang pada awalnya hanya bergerak di bisnis makanan (TPS Food) dan pada 2008 mulai memasuki bisnis perkebunan kelapa sawit (TPS Agro). Sejalan dengan proses transformasi bisnis yang dimulai pada 2009, TPSF telah menjadi salah satu perusahaan yang termasuk dalam Indeks Kompas 100 dan mendapat penghargaan Best Consumer Goods Industry Public Listed Company serta termasuk perusahaan yang masuk dalam daftar “A List of the Top 40 Best Performing Listed Company” pada tahun 2011.
Bisnis makanan dari TPS Food adalah bisnis pendahulu dan tetap menjadi kontributor utama TPSF yang terus mengembangkan usahanya dengan mengakuisisi beberapa perusahaan antara lain PT Subafood Pangan Jaya yang bergerak di bidang produksi bihun jagung dengan beberapa merek terkenal Subahoon dan Cap Tanam Jagung, serta mengakuisisi merek TARO pada akhir tahun 2011 yang memiliki tingkat awareness yang sangat tinggi dan telah menghasilkan pertumbuhan dan kinerja yang luar biasa dengan memberikan kontribusi pendapatan hingga 25% dari total penjualan TPS Food.
Bisnis Kelapa Sawit dimulai TPSF pada tahun 2008 dengan mengakuisisi PT Bumiraya Investindo (BRI) yang berlokasi di Kalimantan Selatan. Bisnis ini merupakan natural hedge untuk TPSF karena memanfaatkan minyak sawit dalam bisnis makanan, sekaligus merupakan sumber pendapatan dan potensi pertumbuhan di masa akan datang. Untuk meningkatkan produksi, TPS Agro melakukan strategi pengembangan secara organik dan an-organik. TPS Agro mengalokasikan sebagian besar dana investasi untuk menambah lahan tertanam pada kegiatan usaha sektor ini, di mana ditargetkan sebesar 41.000 hektar lahan tertanam pada tahun 2015.
Pada akhir tahun 2010 TPSF memulai bisnis berasnya melalui akuisisi PT Dunia Pangan, yang mana usaha di bidang Beras ini juga merupakan salah satu bentuk kontribusi TPSF bagi ketahanan pangan nasional. Bisnis model TPS Rice adalah “Paddy to Rice”, yaitu mengkorversi padi basah (GKP : Gabah Kering Panen) yang dibeli para petani, dikeringkan dan diolah dengan mesin yang modern menjadi beras. Dengan bisnis model “Paddy to Rice” TPS Rice secara jelas membedakan dirinya dengan kompetitor lain yang kebanyakan rice milling tradisional kecil dan tersebar di banyak tempat serta kebanyakan mengadopsi bagian kecil dari bisnis model TPS Rice. Masuknya TPSF ke dalam bisnis perdagangan beras diharapkan akan membantu memperbaiki pendapatan petani beras, yang sering terpaksa menjual hasil produksi mereka pada harga rendah terlepas daripada kondisi saat itu yang sedang panen.
Selama tiga tahun terakhir, sejalan dengan proses transformasi bisnis yang dicanangkan pada akhir tahun 2009, TPSF telah berkembang pesat dengan kombinasi akuisisi dan pola pertumbuhan internal. Dengan komitmen untuk meningkatkan nilai perusahaan dari waktu ke waktu, kedua teknik tersebut sejauh ini mampu meningkatkan masa hidup perusahaan serta meningkatkan kontribusinya terhadap pembangunan Indonesia. Proses Transformasi Bisnis secara berkelanjutan dilaksanakan dengan senantiasa menumbuhkan daya saing perusahaan menuju kepadaperformance terbaik.
Dengan terus membangun kapabilitas sumber daya manusia, inovasi dan efisiensi di setiap lini kerja dan kepemimpinan yang mempunyai visi kuat, TPSF yakin akan dapat memenuhi komitmen untuk memberikan kepuasan bagi pelanggan, keuntungan bagi investor, dan memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat dan kepada bangsa dan negara. (red)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.