Pakar: Transformasi budaya ubah perilaku masyarakat

Meulaboh - Guru besar Komunikasi Antarbudaya Universitas Sumatera Utara (USU) Prof Lusiana Andriani Lubis mengatakan bahwa kemajuan teknologi yang tidak terbendung telah mengubah perilaku dan budaya masyarakat usia produktif menjadi pemalas.
“Akibatnya apa, plagiat di mana-mana. Generasi kita semakin malas berusaha, semua sudah tersedia, tinggal copas (copy paste-red). Ini berbahaya, terutama bagi dunia pendidikan kita, anak-anak didik kita,” katanya di Meulaboh, Aceh Barat, Selasa.
Pernyataan tersebut disampaikan saat memberikan kuliah umum di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Meulaboh dengan tema “Medsos dan Runtuhnya Budaya Masyarakat: Maya vs Nyata” di aula kampus tersebut.
Acara yang berlangsung selama satu hari tersebut diinisiasi oleh Jurusan Dakwah dan Komunikasi Islam STAIN diikuti oleh sekitar 80 peserta dari tenaga dosen serta mahasiswa dan perwakilan dari Universitas Teuku Umar (UTU).
Prof Lusiana menjelaskan, perkembangan teknologi informasi telah membuat budaya masyarakat mengalami pergeseran dari tradisional ke digital, Ia mengibaratkan generasi muda merupakan generasi “Z” yang hidup di era serba digital.
“Pesatnya kemajuan teknologi hari ini betul-betul harus kita sikapi dengan cara yang tepat dan cerdas, sehingga tidak terjadi ‘culture shock’ atau keguncangan budaya. Sebab apa yang terjadi hari ini telah diprediksi jauh-jauh hari oleh para pakar komunikasi,”tegasnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, sebagian masyarakat telah salah kaprah dalam pemanfaatan teknologi, sehingga berimbas pada hal-hal yang negatif.
Kehadiran teknologi yang harusnya mempermudah kerja manusia, tapi justru tidak jarang membuat sipengguna berperilaku malas dan tidak kreatif.
Kata dia, penggunaan media sosial teknologi era digital yang salah kaprah semakin banyak memunculkan berbagai bentuk kecurangan, mulai dari tahapan interaksi sosial bahkan sampai ke ranah dunia pendidikan.
Ia menyayangkan kondisi yang terjadi terutama bagi generasi muda yang masih berusia produktif dan di bangku pendidikan, dampak dari tranformasi era digitalisasi di Indonesia melahirkan generasi malas berpikir dan menurunkan indeks akademik.
“Saat ini ada satu anggapan bahwa untuk membaca tidak perlu lagi harus beli buku, cukup cari di internet. Perilaku lain, begitu bangun pagi, yang pertama dipegang gadget, cek dan update status,”katanya menambahkan .(ANTARA Aceh)
Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply