Banda Aceh - Sejumlah pedagang dan pengusaha di Banda Aceh menyatakan tidak akan memilih Illiza Sa’aduddin Djamal pada pemilukada Februari 2017 mendatang. Hal ini didasari kekecewaan mereka terhadap larangan berjualan pada malam tahun baru.
“Kalau dia mau larang kami jualan, akan kami lawan. Kami mencari nafkah dengan cara halal, kami bukan pemain proyek yang bergelimangan harta. Andaikan kami berjualan petasan, kembang api, wajar dilarang, nah kami ini cuma jualan makanan , apakah makanan kami mengandung babi maka dilarang sama si Illiza. Pokoknya tolong wartawan tulis, kami para pedagang di Banda Aceh tidak akan memilih Illiza sebagai walikota, catat ya,” ujar pedagang di kawasan Simpang Surabaya Banda Aceh.
Sebelumnya anggota DPRK dari PKS Banda Aceh , Mukminan juga memprotes larangan berjualan pada malam pergantian tahun.
“Bagi saya aneh, apakah mencari nafkah di malam tahun baru dengan berjualan makanan melanggar syariat Islam,” tukas Mukminan Jumat (1/1/2016) siang.
Anggota dewan tiga periode dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini lebih jauh mengatakan, “Di mana syariat Islam yang dilanggar warga saat berjualan di malam tahun baru, apakah makanannya yang tidak halal, atau penjualnya berpakaian seksi?”
Menurut Mukminan, semestinya Wali Kota bisa membedakan antara penjual makanan musiman dengan penjual yang sudah permanen.
Misalnya, apakah warga bersangkutan hanya muncul berjualan saat tahun baru aja, atau memang sudah lama berjualan di tempat tersebut.
Pendataan ini, menurut Mukminan penting, sehingga kebijakannya itu tidak merugikan rakyat yang hanya mencari nafkah untuk kebutuhan hidup satu sehari.
“Jika pun Wali Kota ingin menutup warung, harusnya ada kompensasi dalam bentuk lain, misalnya memberi insentif Rp 200 ribu per hari, itu baru adil,” ujar Mukminan yang dikenal sebagai politisi kritis dan bersih itu.
Sepertinya diberitakan sebelumnya akibat penutupan warung tersebut menjelang tahun baru, membuat para pelanggan yang sudah memesan makanan terpaksa makan dalam gelap.
Pasalnya, lampu penerang dipadamkan sesuai permintaan petugas Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh. Bahkan, ada warga yang terpaksa menghidupkan lampu di HP untuk melanjutkan makannya. (red/serambinews)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.