Aceh Besar - Salah satu faktor keberhasilan pimpinan daerah adalah penggelolaan sampah yang modern dan efektif.
Aceh Besar sebagai pintu masuk utama arus wisatawan ke Aceh melalui bandara SIM seharusnya menjadi daerah yang indah dipandang mata.
Namun, permasalahan sampah di Aceh Besar sepertinya hanya dipandang sebelah mata oleh pimpinan daerah setempat.
Padahal semua orang tahu, jika Wakil Bupati Aceh Besar adalah tokoh ulama. Dalam Islam kebersihan adalah sebagian dari iman. Namun di Aceh Besar, slogan ini hanyalah angin lalu.
Warga Aceh Besar sendiri heran dengan sikap pemerintah daerah yang lamban mengurus permasalahan sampah.
Hendra, warga Peukan Bada mengaku tidak ada perbedaan antara pemerintahan lama dan baru. “Dulu kami pikir pilih pemimpin baru, adalah perubahan, ternyata sama aja, lihat saja sampah di daerah Aceh Besar, seperti salah urus,” katanya.
Permasalahan sampah ini juga menjadi sorotan wisatawan yang datang ke Aceh. Warga Palembang, H. Dono Rianto memuji kebersihan di kota Banda Aceh namun saat menuju lokasi Aceh Besar, banyak sampah yang tidak sedap dipandang mata.
“Pemerintah Aceh Besar harus bersinergi dengan pemerintah Kota Banda Aceh, kami melihat banyak sampah di perbatasan. Hal ini tidak selaras dengan penerapan syariat Islam, karena Islam menganjurkan kebersihan,” kata H. Dono Rianto.
Penangganan sampah di kota Banda Aceh semakin baik, namun seringkali sampah dari luar Banda Aceh juga dibuang di perbatasan. Seharusnya pemerintah Aceh Besar mengadopsi layanan call center sampah yang sudah diterapkan di Banda Aceh, sehingga jika ada keluhan warga bisa segera di tindak lanjuti.
Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf bahkan sempat menyindir persoalan sampah di Aceh Besar saat melantik Bupati terpilih.
“Sampah berserakan dimana-mana, sampah berceceran di jalan perbatasan Aceh Besar - Banda Aceh, kalau mau lihat pameran sampah datanglah ke Aceh Besar,” kata Irwandi.
Semoga ada gebrakan dari Bupati Mawardy Ali terkait masalah sampah ini.





