Banda Aceh - Publik Aceh dikejutkan dengan berita pesawat Aero Shark yang dipiloti Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mendarat darurat di tepi pantai kawasan Aceh Besar, Sabtu (17/2) kemarin.
Pesawat buatan Slovakia ini kabarnya milik pengusaha Aceh, Lukman CM yang juga tokoh partai Golkar Aceh.
Lalu kemana pesawat milik Irwandi dengan tipe yang sama, kabarnya pesawat Irwandi dalam proses perawatan.
Pesawat ini berhasil mendarat darurat di pantai lantaran sedang dalam rute menuju Lanud SIM, sehingga mudah menemukan pantai.
Tidak dibutuhkan runway yang panjang untuk pesawat tipe kecil ini, bahkan runway pun tidak perlu diaspal, cukup pengerasan biasa.
Irwandi ingin sekali membeli pesawat Aero Shark ini untuk mengawasi laut dan hutan Aceh, namun setelah melihat insiden kemarin, warga menjadi khawatir dengan rencana Irwandi ini.
Andaikan pesawat ini sedang berada di atas laut perbatasan Indonesia saat mengawasi ilegal fishing dan mengalami mati mesin, kemana pesawat kecil ini akan mendarat sedangkan disekitarnya tidak ada pulau.
Hampir dipastikan pesawat akan landing di air dan dibutuhkan mukjizat untuk menemukan pilot ditengah lautan yang luas. Apalagi Aceh tidak memiliki armada laut yang sigap dalam menerima panggilan may day dari pilot.
Memang lebih bijaksana jika Aceh mengawasi laut menggunakan drone canggih terbaru yang harganya jauh lebih murah dari pesawat buatan Slovakia.
Begitu juga untuk pengawasan ilegal logging, penggunaan drone jauh lebih efektif, karena drone bisa terbang diam dan senyap diatas gunung, bahkan bisa diam saat mengambil gambar, sedangkan pesawat tidak mungkin bisa diam saat terbang, kecuali helikopter, itupun akan terdeteksi lantaran suara bising mesin.
Musibah kemarin menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa mesin adalah buatan manusia, adakalanya terjadi gangguan, seperti yang diceritakan Irwandi, gangguan pada aliran bahan bakar.
Sungguh beresiko mengirimkan pilot Aceh terbang ditengah laut dengan pesawat tipe ini, pesawat ini bukanlah rakitan Air Bus atau Boeing, yang tidak diragukan lagi kualitasnya, namun rakitan di Slovakia, negara pecahan Uni Soviet. (Editorial)







