Banda Aceh - Staf LPSDM Aceh, Tgk Jamaica mengkritik pemberian beasiswa bagi mahasiswa lulusan S1 dan S2 ke luar negeri. Dia juga menyesalkan banyaknya penerima beasiswa LPSDM yang enggan kembali ke Aceh, padahal miliaran uang rakyat Aceh dihabiskan untuk membiayai mereka kuliah.
Melalui media sosial facebook, Tgk Jamaica menuliskan, ” Saya pernah berdebat dg orang yg membuat kebijakan program beasiswa itu, Saya memprotes bahwa ratusan miliar uang rakyat Aceh telah dihambur-hamburkan untuk beasiswa ke luar negeri. Saya bertanya dimana para penerima beasiswa itu sekarang dan apa yg mereka lakukan untuk Aceh? Karena menurut informasi dari intelijen Bagdad bahwa sebagian diantara mereka setelah selesai studi tidak mau kembali lagi ke Aceh, mereka lebih memilih bekerja atau kawin di luar negeri daripada kembali ke Aceh. Alasannya, kalau di Aceh tidak tersedia pekerjaan yg sesuai dg kemampuan mereka. Jikapun ada pekerjaan yg sesuai dg kemampuan mereka, mungkin gajinya lebih kecil jika dibandingkan dg bekerja di luar negeri.
Dia menjawab: “Saya memberikan beasiswa untuk mencerdaskan orang Aceh, terserah mereka mau pulang ke Aceh atau tidak, itu tidak masalah. Seperti sistem orang Yahudi, mereka membiarkan orang Yahudi tersebar di mana-mana bekerja di seluruh dunia ini, tapi mereka tetap orang Yahudi. Begitu juga dg orang Aceh, biarkan mereka bekerja di luar negeri, tapi berpikir untuk Aceh.”
Saya mengatakan bahwa tidak sependapat dg konsep Yahudi ini, karena tidak ada jaminan bahwa mereka akan berpikir untuk membangun Aceh. Jikapun mereka berpikir untuk membangun Aceh dari luar negeri, apa dampaknya yg nyata dan bisa dirasakan oleh rakyat Aceh saat ini atau akan datang?
Bayangkan, yg sudah kembali ke Aceh saja belum tentu semua mereka mau mengabdikan dirinya kepada rakyat Aceh, konon mereka yg telah merasakan hidup enak di luar negeri mau berpikir dan mengabdi untuk membangun Aceh?
Kemudian, ada pendapat lain bahwa mereka yg bekerja di luar negeri dg gaji tinggi akan bisa mengirimkan uang untuk membantu saudara-saudaranya di Aceh, itu suatu dampak positif untuk kemajuan ekonomi di Aceh.
Terus Saya timpal, kalau mereka bisa kirim uang untuk saudara-saudaranya di Aceh itu dianggap suatu hal yg positif dampak pemberian beasiswa oleh Pemerintah Aceh, Saya kembali tidak sependapat.
Karena “jumlah banyak uang” yg dikirim ke kampungnya itu tidak bisa menjadi sebuah indikator untuk mengukur keberhasilan dari pemberian beasiswa ke luar negeri.
Coba bandingkan, seberapa besar jumlah uang yg dikirimkan oleh penerima beasiswa yg bekerja di luar negeri dg Bandar Narkoba International Aceh?
Pasti lebih banyak uang yg dikirimkan oleh Bandar Narkoba. Jadi, kalau begitu kita akan berkesimpulan bahwa Bandar Narkoba itu lebih hebat dari penerima beasiswa?
Tujuan pemberian beasiswa itu bukan hanya agar si penerima mudah dalam mendapatkan suatu pekerjaan untuk pribadinya sendiri, tapi bagaimana dia bisa merubah keadaan di Aceh secara menyeluruh dalam berbagai hal dari yg tidak baik menjadi baik, tidak maju menjadi maju, berat menjadi ringan, susah menjadi mudah dan sebagainya. Mereka juga harus mampu untuk menyelesaikan berbagai persoalan atau hambatan yg sedang dihadapi oleh masyarakat saat ini, seperti di bidang Pertanian, Peternakan, Perikanan, dll.
Jadi, kalau pemberian beasiswa itu hanya tujuan untuk memperbaiki nasib pribadi-pribadi dan keberhasilan diukur dari seberapa besar mereka bisa memperoleh gaji dari pekerjaannya, juga bisa membantu saudara-saudaranya, maka kita harus memberi penghargaan kepada semua Bandar Narkoba International Aceh, karena mereka lebih berhasil dari penerima beasiswa.
Bagaimana tanggapan anda apakah anda setuju dengan pengiriman mahasiswa Aceh keluar atau sebaliknya? (red)

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.