Banda Aceh - Pemerintah kota Banda Aceh gencar melakukan kegiatan zikir sebagai sarana untuk menjadikan Banda Aceh sebagai destinasi wisata islami.
Bahkan, satu-satunya kota di dunia ini yang menjadikan pendopo kepala daerah sebagai lokasi zikir hanya ada di kota Banda Aceh.
Setiap Jumat malam, Wali Kota Banda Aceh mengundang warga untuk datang ke pendopo melaksanakan zikir dan pengajian. Ribuan warga berdatangan untuk berzikir bersama alim ulama dan Wali Kota.
Namun, publik terkejut membaca status politisi Partai Demokrat Banda Aceh, yakni AK Jailani yang mengkritik kegiatan zikir yang diadakan oleh Wali Kota.
AK Jailani, yang merupakan politisi Partai Demokrat menuliskan kritikannya di media sosial Facebook. Redaksi Harian Merdeka mendapat kiriman screenshoot dari warga terkait status Facebook yang melecehkan kegiatan zikir di Banda Aceh.
Berikut screenshoot lengkap tersebut.
Status ini tentu merugikan elektabilitas Partai Demokrat di Banda Aceh secara khusus dan Aceh pada umumnya, mengingat Demokrat sedang bersusah payah mengembalikan kejayaan partai yang terpuruk lantaran kasus korupsi yang pernah menimpa ketua umum Anas Urbaningrum dan anggota dewan.
Sebagai politisi partai Demokrat, hal ini ibarat blunder bagi partai. Aceh dikenal sebagai daerah syariat Islam yang sekarang gencar menggelar kegiatan zikir setiap malam di Banda Aceh dan daerah lainnya.
Dilihat dari statusnya AK Jailani sepertinya tidak mendukung zikir di Banda Aceh yang kini semakin marak dan ramai. Tidak relevan membandingkan kegiatan zikir dengan persoalan air bersih yang juga menjadi fokus pemko Banda Aceh.
Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman mengatakan persoalan air bersih adalah prioritas utama pemko Banda Aceh, sedangkan zikir adalah bagian dari mewujudkan Banda Aceh Gemilang dalam bingkai syariah.
“Kami tidak menutup mata dan telinga mendengar keluhan warga, misal sampah, pdam, pelanggaran syariat sudah kita siapkan nomor pengaduan khusus, dan sekarang semua saluran pdam yang tersumbat akar tanaman sebagian sudah dibongkar, ternyata bertahun-tahun lalu tidak diperhatikan namun sekarang siang dan malam saya minta petugas pdam kerja, kerja dan kerja,” kata Aminullah.
Sedangkan zikir rutin yang digelar seminggu sekali menjadi sarana warga untuk bisa bersilaturahmi langsung ke rumah Wali Kota. “Pendopo ini adalah rumah rakyat, disinilah sehabis zikir saya menerima pengaduan langsung dari warga, menyapa warga yang hadir, dan menjadikan Pendopo terbuka bagi seluruh rakyat, kalau dulu warga hanya bisa lihat dari luar pagar, sekarang bisa leluasa masuk ke pendopo untuk beribadah, saya tidak ingin ada sekat antara Wali Kota dan rakyat, karena saya berasal dari rakyat biasa, yang kini diberi amanah memimpin kota,” katanya.
Aminullah menambahkan kegiatan zikir ini berdasarkan masukan dari para ulama dan Tengku dayah di Aceh. Agar Pendopo Wali Kota tidak hanya menjadi kediaman resmi Wali Kota tetapi menjadi pusat kegiatan islami yang bermanfaat bagi warga kota. (wsy)






