Banda Aceh - Wali Kota Banda Aceh, H Aminullah Usman SE Ak MM dan Wakil Wali Kota, Drs H Zainal Arifin memiliki tekad kuat mengatasi persoalan sampah yang selama ini menjadi masalah serius di Ibukota Provinsi Aceh.
Salah-satu caranya dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di TPA Gampong Jawa.
“Tujuan utama kita kota bersih dulu, kemudian listrik itu adalah bonusnya,” ujar Aminullah saat memimpin rapat membahas permohonan proposal studi kelayakan salah-satu investor.
Kata Wali Kota, nanti setelah dilakukan penelitian oleh investor dan hasilnya PLTSa layak dibangun, manfaatnya kota menjadi bebas dari polusi, bau, dan tumpukan sampah.
“Apalagi di Gampong Jawa memiliki situs sejarah. Kita ingin bersihkan kawasan ini dari sampah dan bau yang tidak sedap. Dan yang perlu diketahui, proyek ini tidak membutuhkan lahan luas dan tidak merusak bangunan yang ada,” ujar Wali Kota.
“Ini kan banyak manfaatnya, kawasan ini akan bersih karena semua sampah akan diolah menjadi tenaga listrik. Sampah yang sudah menumpuk itu nanti akan bersih dan setiap harinya sampah yang masuk akan langsung diolah menjadi listrik” ujar Wali Kota.
Hingga saat ini, Pemko Banda Aceh belum membuat MoU dengan pihak investor terkait pembangunan PLTSa. Dalam rapat yang dihadiri Wakil Wali Kota, Drs H Zainal Arifin dan pejabat terkait.
“Kita memberi izin untuk studi saja dulu, setelah itu kita minta mereka presentasikan hasilnya. Baru kemudian kita putuskan proyek ini lanjut atau tidak. Intinya kita harus mendapatkan manfaat besar dari proyek ini. Selain kota bersih, Banda Aceh juga harus mendapatkan PAD dari PLTSa ini,” kata Aminullah.
Sementara itu Wakil Ketua Komisi C DPRK Banda Aceh, Abdul Rafur memaparkan, pembangkit PLTs itu menggunakan teknologi zero wast, atau membakar sampah yang dipadu dengan air. Dari proses pembakaran itu, kata dia, akan menghasilkan uap yang mampu menggerakan turbin. ”Gerakan dari turbin itulah yang mampu menghasilkan listrik,” katanya.
Dengan begitu, Rafur memastikan mesin yang digunakan sangat ramah lingkungan. Berbeda dengan sistem pembakaran sampah lainnya yang hanya bersuhu 100-200 derajat celcius. Pembakaran sampah menggunakan alat yang mampu mencapai suhu 1.200 derajat celcius.
Rafur menambahkan pemerintahan Amin - Zainal fokus pada pembenahan kota, wacana PLTSa harus didukung oleh semua pihak agar bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Rafur juga menyinggung tentang IPAL yang dibangun dimasa rezim sebelumnya.”Masa rezim sebelumnya proyek IPAL dibangun namun tidak ada yang menolak, lantas saat Amin - Zainal menjadi Wali Kota langsung muncul penolakan padahal proyek sudah lama berjalan ini kan aneh, kenapa dulu mereka diam saja saat rezim sebelumnya membangun IPAL, ini kan namanya orang yang makan nangka, kita yang kena getahnya,” jelas rafur.
Namun Rafur angkat salut dengan ketegasan Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman yang menghentikan proyek IPAL agar bisa dilakukan survey terlebih dahulu.
“Inilah kegagalan rezim sebelumnya yang ditanggung oleh Amin - Zainal, namun ketegasan Wali Kota kita apresiasi dengan menghentikan proyek IPAL, Wali Kota mempersilahkan para ahli bekerja memetakan lokasi proyek IPAL,” katanya.
Sementara itu, Kadis DLHK3 Banda Aceh, Samsuar mengaku belum ada MoU antara pihak investor dengan pemko. “Saat ini baru diberikan izin untuk survey, setelah mereka melaporkan hasil survey tentu nantinya Pemko Banda Aceh dan dinas terkait akan duduk bersama untuk membahas kelanjutan PLTSa.
“Tujuan dari PLTSa agar sampah menjadi energi listrik dan hilang polusi udara yang selama ini dikeluhkan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Safrizal, warga Gampong Jawa mendukung rencana PLTSa yang nantinya akan menyerap banyak tenaga kerja dan juga menghilangkan polusi udara.
“Sudah cukup lama kami hidup dengan menghirup sampah, semoga dengan kehadiran PLTSa nanti akan bermanfaat bagi edukasi, hilangnya polusi udara dan menghasilkan listrik yang mampu menambah pasokan energi untuk Banda Aceh,” jelasnya.
Tidak hanya warga Gampong Jawa, warga Gampong Pande, Peulanggahan, Keudah dan Lampulo setiap hari harus mencium aroma sampah yang berasal dari TPS Gampong Jawa. Karena itu warga berharap pemko bisa Banda Aceh mengolah sampah dengan langkah yang modern. (red)



















