LANGSA - Ketua DPRK Langsa, Burhansyah berjanji akan melanjutkan aspirasi Mahasiswa Langsa yang berunjuk rasa menuntut Presiden Jokowi turun tahta atas kondisi Indonesia yang memprihatinkan, Selasa (18/09/2018).
Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Kota Langsa (AMKA) yang merupakan gabungan dari tiga elemen yaitu Himpunam Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Langsa, Keluarga Besar Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Langsa dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Langsa mengusung poster “Turunkan harga pangan, bukan suara azan” ini melakukan long march dari Lapangan merdeka menuju gedung DPRK Langsa sejak pukul 10.00 WIB.
Presiden Mahasiswa IAIN Langsa Muhammad Jailani dalam orasinya meneriakkan keprihatinan pihaknya sebagai mahasiswa dengan kondisi harga sembako yang kian tinggi serta menyoroti nilai tukar rupiah yang terus meroket.
“Lawan Pemerintahan Jokowi,” teriaknya.
Bahkan aksi yang dilakukan Mahasiswa Langsa ini terlihat unik karena turut menampilkan sosok seseorang yang mengendari Motor Gede dengan berpakaian serba hitam sebagai ilustrasi Presiden Jokowi yang dianggap “menipu public” dengan aksi mengendarai Moge bak actor Hollywood ketika pembukaan ajang Asean Games 2018 beberapa waktu lalu.
Menanggapi aksi tersebut, Ketua DPRK Langsa Burhansyah turut memberikan apresiasi positif atas kritikan para pendemo serta berjanji akan terus mengawal berbagai kebijakan pemerintah serta akan menyurati Pimpinan DPR dan Pemerintah Pusat.
“Kami tidak tinggal diam ketika kondisi bangsa seperti ini, tidak hanya nilai tukar rupiah yang akan kami surati, tapi juga terkait larangan kumandang azan keras yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama” tegas Burhansyah.
Adapun tujuh tuntutan para pengunjuk rasa yaitu :
1. Turunkan Jokowi dan JK dari tahta kepresidenan.
2. Mendesak Kementerian terkait untuk bergerak cepat dalam membenahi perekonomian bangsa.
3. Copot Lukman Hakin Saifuddin dari Menteri Agama.
4. Turunkan harga barang dan stop impor luar negeri.
5. Meminta kepada TNI dan Polri menjaga netralitas dalam Pilpres 2019.
6. Meminta kepada Pemeruntah Kota Langsa angkat bicara di media menolak surat edaran Kementerian Agama tentang volume azan.
7. Menolak dana haji digunakan untuk pembangunan infrastruktur.
Pengunjuk rasa juga menyampaikan bahwa jika sampai tanggal 20 September 2018 aspirasi mereka tidak ditindak lanjuti maka mereka akan kembali melakukan aksi untuk menyuarakan keprihatinan kondisi Indonesia saat ini. (atjehupdate)



















